Stop Penyalahgunaan Pil PCC Di Indonesia

Stop Penyalahgunaan Pil PCC Di Indonesia
Stop Penyalahgunaan Pil PCC Di Indonesia
Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Sitti Hikmawati menyatakan jika kasus penyalahgunaan pil PCC yang terutama berasal dari kota kediri Sulawesi Tenggara yang terjadi seperti fenomena gunung es. Hikmawati juga mengharapkan agar pil tersebut tidak akan menyebar ke seleruh Indonesia. “kejadian yang sudah terjadi ini tidak akan bisa langsung berhenti, karena pasti akan menyebar dan seperti femomena gunung es,” Ucap Hikmawati.

Hikmawati juga menegaskan jika pihaknya akan bekerja sama dengan semua pihak yang terkait untuk menggali terus asal usul dan faktor faktor yang menyebabkan kasus ini terjadi. “Kami prediksikan jika hal ini akan terus berlanjut karena kejadian yang terjadi kemarin tidak akan bisa langsung selesai.” tambah Hikmawati.

Menurut penelusuran dari KPAI, salah satu faktor yang menyebabkan korban penyalahgunaan tablet PCC di Kendari karena adanya pengaruh lingkungan dan juga dari anak itu sendiri. “Kami sudah mencoba untuk menemui korban dan juga keluarganya, kami sudah memiliki kesimpulan dan kemudian kami akan merangkum semuanya dan akan kami berikan saran kepada pemerintah daerah sebagai pertimbangan untuk mengeluarkan kebijakan kebijakan untuk daerahnya tersebut.” Tegas Hikmawati. (Stop Penyalahgunaan Pil PCC Di Indonesia)

Menurut pengakuan dari korban yang mengkonsumsi pil PCC, pil tersebut dibagikan secara gratis oleh orang yang tidak dikenal sebanyak tiga butir per orang. Seperti yang sudah kita ketahui jika korban yang sudah terjadi di Kedari yaitu dua orang tewas dan juga sekitar 25 orang masih dalam perawatan tim medis.

PCC sesuai dengan namanya yaitu terdiri dari parasetamol, caffeine (kafein), dan carisoprodol (karisoprodol). Dalam ketiga bahan yang terdapat dari obat tersebut hanya karisoprodol yang tidak memiliki efek samping yang berbahaya ketika disalah gunakan. (Stop Penyalahgunaan Pil PCC Di Indonesia)

Seperti yang dikutip dalam jurnal Annals of the New York Academy of Sciences, karisoprodol sebenarnya obat yang dikembangkan oleh Dr Frank M. Berger di laboratorium Wallace pada tahun 1959 yang berfungsi sebagai pengganti dari obat meprobamate. Harapan dari pengembangan karisoprodol karena berfungsi sama yaitu sebagai obat yang bisa menenangkan lebih baik dan dipercaya lebih sulit untuk disalahgunakan dari pada obat yang sudah beredar sebelumnya.

Sebenarnya PCC merupakan obat yang dikeluarkan untuk meredakan nyeri pinggang karena kandungannya memiliki efek yang mujarab bagi rasa nyeri dan mengembalikan mobilitas otot-otot yang kaku. Namun pada tahun 1976 pernah terjadi laporan atas kasus overdosis karena pil PCC dan pada saat itu kemungkinan overdosis terjadi karena hormon serotonin di otak akibat karisoprodol. (Stop Penyalahgunaan Pil PCC Di Indonesia)

Semenjak kejadian tersebut, semua lembaga pengawas obat dan makanan di seluruh dunia mula membatasi peredaran dari pemasaran obat PCC. Sejak tahun 2013 Indonesia sudah mencabut izin edar atas obat yang mengandung karisoprodol. Menurut BPOM izin edar tersebut di sahkan karena banyaknya pengalahgunaan dari pada orang yang menggunakannya untuk efek terapinya.

Polisi saat ini sedang mendalami temuan dari sebuah rumah toko yang diperkirakan menjadi pabrik obat terlarang PCC di Banyumas, Jawa Tengah. Setelah penggrebekan, ruko tersebut diperkirakan merupakan pabrik dari PCC yang bisa memproduksi ratusan ribu pil dalam semalam. Ruko yang sebelum terjadi penggerebakan itu awalnya dikira hanya ruko biasa yang dtutup dengan fiber glass dan didepannya hanya toko yang menjual air mineral isi ulang. Atas penggerebekan tersebut, polisi berhasil menyita beberapa mesin dan ribuan butir pil dari sisa hasil produksi yang sudah siap untuk diedarkan. (Stop Penyalahgunaan Pil PCC Di Indonesia)